Konsep Pembinaan Spiritual Anak Sebagai Upaya Pengembangan Motivasi Keberagaman Siswa di MTS Arafah Kota Binjai Sumatera Utara
DOI:
https://doi.org/10.51178/jsr.v7i1.3380Keywords:
Pembinaan Spiritual, Motivasi Keberagamaan, MTs Arafah Binjai, Pendidikan Islam, Psikologi Agama, Kesehatan Mental RemajaAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis mendalam dan komprehensif mengenai konsep pembinaan spiritual anak serta implikasinya terhadap pengembangan motivasi keberagamaan siswa di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Arafah, Kota Binjai, Sumatera Utara. Di tengah arus globalisasi dan disrupsi teknologi era Society 5.0 yang membawa tantangan moralitas serta krisis eksistensial bagi remaja, institusi pendidikan Islam dituntut untuk merevitalisasi peranannya tidak hanya sebagai wahana transfer pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan sebagai pusat penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan pembentukan karakter. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus lapangan (field research). Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipan yang intensif, wawancara mendalam dengan kepala madrasah, guru Pendidikan Agama Islam (PAI), siswa, dan orang tua, serta studi dokumentasi kurikulum dan profil madrasah. Kerangka teoretis yang digunakan meliputi teori perkembangan jiwa agama Zakiah Daradjat yang menekankan peran kesehatan mental dan keteladanan guru, serta teori dimensi keberagamaan Glock dan Stark yang dielaborasi dengan perspektif psikologi Islami Ancok dan Suroso untuk membedah struktur motivasi intrinsik dan ekstrinsik siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Konsep pembinaan spiritual di MTs Arafah Binjai diimplementasikan melalui pendekatan holistik-integratif yang mencakup strategi pembiasaan ibadah (spiritual habituation), keteladanan guru sebagai kurikulum hidup (living curriculum), dan penciptaan lingkungan religius (religious milieu); (2) Profil motivasi keberagamaan siswa menunjukkan transformasi dinamis dari motivasi ekstrinsik menuju intrinsik, di mana siswa tidak hanya kuat pada dimensi ritualistik dan ideologis, tetapi juga mulai menginternalisasi dimensi eksperiensial dan konsekuensial yang tercermin dalam perilaku sosial dan kontrol diri terhadap penyimpangan; (3) Sinergi tri-pusat pendidikan sekolah, keluarga, dan masyarakat menjadi variabel determinan dalam keberhasilan pembinaan spiritual, dengan tantangan utama berupa inkonsistensi pola asuh di rumah dan paparan media digital yang masif.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Muhammad Aslam Fikri Lubis, Wiene Surya Putra

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.












