Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Melalui Soal Cerita Kontekstual
DOI:
https://doi.org/10.51178/cjerss.v7i4.3022Keywords:
Pemecahan Masalah Matematika, Soal Cerita Kontekstual, Penelitian Tindakan Kelas, Sekolah Dasar, Fase B.Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas 4B UPT SPF SDN 106826 Sidodadi melalui penerapan soal cerita kontekstual. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan secara kolaboratif dalam dua siklus, di mana setiap siklus terdiri dari empat tahapan utama: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Penelitian dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2026/2027 dengan subjek penelitian sebanyak 20 siswa Fase B, yang terdiri dari 9 siswa perempuan dan 11 siswa laki-laki. Data penelitian diperoleh melalui tes kemampuan pemecahan masalah matematika, lembar observasi aktivitas guru dan siswa, serta wawancara dokumentatif. Kemampuan pemecahan masalah diukur berdasarkan empat indikator utama Polya, yaitu: (1) memahami masalah, (2) merencanakan penyelesaian, (3) menyelesaikan masalah sesuai rencana, dan (4) memeriksa kembali hasil penyelesaian. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan dari kondisi pra-siklus hingga Siklus II. Pada pra-siklus, ketuntasan klasikal kemampuan pemecahan masalah matematika siswa hanya mencapai 25% (5 dari 20 siswa) dengan rata-rata nilai kelas sebesar 58,25. Pada Siklus I, setelah diterapkannya soal cerita kontekstual berbasis lingkungan sehari-hari, ketuntasan belajar meningkat menjadi 55% (11 dari 20 siswa) dengan rata-rata kelas 70,50. Selanjutnya pada Siklus II, melalui perbaikan strategi berupa bimbingan kelompok kecil dan perancangan konteks soal yang lebih interaktif, ketuntasan klasikal berhasil mencapai 85% (17 dari 20 siswa) dengan rata-rata nilai kelas 83,75. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika dengan memanfaatkan soal cerita kontekstual terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa SD pada Fase B.










